Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2019

Terbaru 2020 - Review Film Suara April dan Filmnya Sudah Tersedia di Youtube

Teknologi Terbaru


Film Suara April dirilis tanggal 15 Maret 2019 dengan durasi 1 jam 30 menit. Film yang tayang sangat terbatas ini diperuntukkan sebagai bagian dari kampanye Pemilu agar masyarakat hadir pada tanggal 17 April 2019. Jadi, film ini tidak masuk dalam daftar film seperti yang biasa kami buat.

Hari ini, Kamis (25/4/2019), tidak ada satu pun film Indonesia yang rilis yang biasa tiap kami. Kehadiran film Avengers: Endgame sangat-sangat mempengaruhi daftar film rilis dipekan terakhir bulan April.

Isu pendidikan hingga skeptis Pemilu

Berlatar sebuah desa, musik dangdut di sana dianggap lebih menarik ketimbang Pemilu. Menariknya, tiap diadakan hajatan Dangdut, masyarakat lebih mudah berkumpul dan di sana sebenarnya kampanye promosi yang bisa disusupi.

Diawal film, penonton langsung diberikan konflik tentang profesi guru yang dianggap kurang menarik dari Ayah si tokoh utama perempuan (guru). Maunya si Ayah, putrinya memilih karir musik Dangdut binaan sanggarnya ketimbang jadi guru.

Ayah yang diperankan Almarhum Torro Margens merupakan sosok berpengaruh di desa dan memiliki pertunjukkan Dangdut yang berpengalaman. Bahkan Kepala Desa sangat segan sama beliau.

Tidak menunggu lama, tokoh pria utama yang diperankan Bio One datang ke Desa si Guru yang diperankan Amanda Manopo untuk sosialisasi Pemilu.

Bisa dikatakan pemain pria ini adalah pahlawan yang harus melawan bagaimana caranya meluluhkan  masyarakat di Desa yang didatangi untuk bisa ikut menyoblos pada hari Pemilu.

Saat isu pendidikan terus diangkat karena Yayasan sudah kehabisan duit untuk mempertahankan Sekolah, si Guru ikut berjuang bersama dengan si penyuluh.

Satu sisi bagaimana mempertahankan murid dan Sekolah agar tetap ada. Dan satu sisi lagi, menghadapi Si Ayah yang tidak ingi mendengar adanya Pemilu di Desa.

Isu Pileg

Desa yang sudah sangat tenang karena dijaga dari informasi tentang kampanye Pemilu dari luar, rupanya memiliki motif sendiri sebagai alasan mengapa itu dilarang di Desa

Salah satu penyanyi yang lahir dari Desa tersebut dan sukses, pergi ke Kota untuk menjadi artis dan kini mengikuti pemilihan. Semacam kacang lupa kulitnya.

Kaitannya sangat erat dengan si Ayah dari Guru yang mencoba berjuang. Masa lalu tersebut yang menjadi alasan damainya desa dan hanya suguhan Dangdut yang terus ramai.

Saat semua sedang berjuang agar dapat jalan memberikan sosialisasi, termasuk masuk ke Sekolah dan akhirnya ditentang, dua calon Legislatif saling beradu.

Saling mengklaim lebih baik, membuat suasana semakin kacau. Salah satu calon Legislatif diperankan Dewi Gita yang merupakan penyanyi terkenal di Desa yang sekarang tidak mau datang ke Desanya lagi.

Berakhir indah

Film ini bisa dikatakan film yang mengikuti alur skenario yang sudah diatur sedemikian rupa. Maksud kami itu seperti dari A lalu ke B, kemudian ke C dan selesai di Z. Sangat terstruktur. Hasilnya, memberi tontonan yang mudah dimengerti. Tapi juga mudah ditebak.

Si penyuluh KPU berhasil dengan tugasnya mensosialisasikan Pemilu kepada masyarakat. Si Guru juga berhasil mempertahankan Sekolah. Dan konflik si Ayah dengan penyanyi lamanya yang menjadi Caleg juga berakhir damai dari rasa salah dan dendam.

Film Suara April di Youtube

Bila kamu penasaran atau punya waktu luang, film Suara April tersedia di Youtube. Kami membawanya berikut ini. Kapan lagi ada film Indonesia yang dirilis secara resmi dan ditaruh di Youtube.


Artikel terkait :
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap

Kamis, 18 April 2019

Terbaru 2020 - Review Film Ave Maryam

Teknologi Terbaru


Salah satu alasan kami akhirnya memutuskan pergi ke bioskop menonton film Ave Maryam adalah lokasi syuting yang digunakan. Ya, Kota Semarang. Beberapa lokasinya bahkan memang sering digunakan untuk syuting. Lalu, seperti apa gambar yang ditampilkan?

Filmnya hanya berdurasi 73 menit. Namun membuat kami merasa waktu begitu lama. Rasa penasaran yang sudah dipendam sebelum masuk teater, sudah hilang. Oh tidak, ini bukan film yang selama ini biasa kami nonton. Sangat lambat, tidak banyak dialog dan harus berpikir lebih keras.

Datang dari kelas film festival Internasional

Langkah film dari sutradara Robby Ertanto sangat meyakinkan untuk pemilik bioskop menerima film yang mengusung genre drama ini. Karena menurut kami, tidak mudah film yang diputar di Semarang akan masuk dalam daftar.

Namun seiring waktu, beberapa film yang kurang lebih sama seperti Ave Maryam, bisa tembus juga. Ini menariknya. Penonton Semarang yang bukan datang dari pemetaan pemasaran film yang biasa kami pikirkan, generasi Z, bisa merasakan film-film yang diputar di kota lain, bisa diputar di Semarang.

Apalagi, setelah melihat poster dan kepo beberapa referensi, film yang dibintangi Maudy Koesnaedi dan Chicco Jericho ini diputar pada gelaran film festival. Seperti Hanoi International Film Festival , dan Hong Kong Asian Film Festival. (Ada pembuka video trailer)


Ada semacam prestasi yang menjadi garansi untuk pemilik gedung bioskop di Semarang mau menaruhnya di layar mereka. Bahkan hingga tulisan ini kami buat, sudah satu pekan film ini bertahan dari rilis resminya di bioskop tanggal 11 April 2019. Bisa bertahan 3 hari aja, udah syukur.

Alasan menonton, Semarang yang jadi latar

Jika biasanya melihat sosok Joko Anwar dibalik layar, maka film ini kami melihatnya sebagai salah satu pemain dan berperan sebagai pastor. Apakah ini kejutan? Entahlah.

Ceritanya film Ave Maryam sendiri sudah sangat banyak diulas. Pada intinya, Suster yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi jatuh cinta pada pastor baru yang datang ke gereja, tempat si Maudy. Pastor yang diperankan Chicco ini menarik perhatian Suster.

Dalam balutan kisah keduanya yang akhirnya dapat mengeluarkan rasa saling sukanya, Kota Lama Semarang menjadi bagian pentingnya.

Ada Gereja Blenduk, gedung Spigel, jalanan dan yang paling banyak mendapatkan sorotan adalah Geraja Gedangan. Tahun 2017, kami pernah masuk ke dalam dan melihat langsung ruangan di sana.

Gereja yang dibangun sejak tahun 1808 ini memang sangat menarik. Kamu yang penasaran, bisa melihat beberapa gambar yang kami ambil saat berkunjung dalam rangka tour Kota Lama. Klik di sini.

Selain kawasan Kota Lama yang kami tangkap selama menonton, ada stasiun Tawang yang juga menjadi bagian penting dalam sebuah adegan perpisahan di dalam film.

Film Idealis


Bagi kami yang datang dari sisi penonton biasa, film semacam Ave Maryam memang unik. Tidak seperti film komersil lainnya yang bisa kami komentarin. Ini jual tampang, ini judulnya menjual dan sebagainya.

Banyak memasukkan sisi agama dalam film,  memang bisa dikatakan sensitif buat sebagian penonton nantinya. Tapi buat yang ingin menikmati sebuah karya, film idealis seperti ini, memang harus dicoba sendiri.

...

Saat cinta datang, perasaan siapa pun yang merasakannya, tidak akan terbendung. Normalnya berpikir sebagai insan manusia biasa. Tapi ketika Suster dan Pastor mencoba menghubungkan perasaan itu. Banyak tantangan yang harus dihadapi.

Dilema dengan diri sendiri. Aturan yang harus ditaati, dan pilihan yang harus dihormati. Jalan yang benar bagi sebagian orang, belum tentu benar buat yang merasakan.

Pernah berkunjung ke Semarang? Pernah ke tempat-tempat yang ada di film?

Artikel terkait :
Informasi Kerjasama
Hubungi lewat email dotsemarang@gmail.com
Atau klik DI SINI untuk detail lebih lengkap